Pages

Monday, April 22, 2013

Mimpi Yang Belum Tergapai




Di setiap kemungkinan yang tersedia, selalu ada banyak kesempatan untuk memberi kita ruang dalam belajar. Entah ia sedikit menyengat kesadaran kita, atau menghentakkan rasionalitas kita pada keterpurukan terhebat. Tetaplah, setiap kejadian sejatinya ia memiliki kelayakan yang sangat pantas untuk dimaknai. Maka seperti itulah gugusan hikmah yang Allah sediakan untuk kita.

Sebuah kalimat sederhana pernah terdengar dan sangat berkesan bagi saya.. “Entah itu kesalahan yang pahit, kekhilafan yang terlampaui pekat, sebuah kejadian, tetaplah kejadian. Dia hadir bukan hanya sekedar memberi setitik warna dalam kehidupan kita, namun juga menjadi kesempatan yang besar buat kita agar mampu belajar. hanya saja, BAGAIMANA, kita memetik hikmahnya adalah kunci dari setiap langkah yang akan kita tapaki ke depannya, apakah ia seputih mutiara? atau masih sepekat lumpur hitam yang kotor?”

Dan ketika kita mencoba meraba segala bentuk kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, maka yang akan kita temukan adalah KETAKUTAN, kalau saja apa yang akan ada di hadapan kita tak sesuai dengan HARAP yang pernah ada, atau apa yang akan terjadi nanti tak seindah BAYANGAN kita, atau, bisa saja, justru kemungkinan-kemungkinan yang hadir dalam IMAJI kita, suatu waktu, takkan pernah terjadi. Maka terjadilah KEKECEWAAN. Keterpurukan yang mendalam 

karena harapan yang membumbung tinggi. Untuk kasus ini, saya akan menyetujui “Bahwa bermimpi.. janganlah terlalu tinggi…” namun jika dipahami, kalimat ini hanya untuk berlaku untuk orang yang BERHARAP pada dunia dengan sepetak HARAP yang terlalu diingini. Jika ini engkau miliki, maka jangan sesali, jika akhirnya segala sesak hadir di dalam diri. Karena memang, sedari awal, yang kau ingini, tak lebih dari ejawantahan nafsu yang kau atas namakan MIMPI.
Lalu bagaimana agar MIMPI ini menjadi sebuah motivasi yang tak ternodai?
Sungguh sangat sederhana menguraikannya… Kuncinya ada di HATI….

Hati yang sehat

Itulah dia yang akan berhak menggali hikmah dari setiap kejadian. Dia yang akan mengarahkan kita agar mengorientasikan segala MIMPI, IMAJI, juga HARAP kita hanya kepada Allah. Menisbahkan kepuasan batinmu pada pencapaian dunia, sungguh hanya akan membuatmu terluka. Maka beginilah indikasinya…

1. Selalu mengharap rahmat Allah (Raja’)

Pengharapan…. Awalnya adalah rasa HARAP. Jangan pernah putus harapmu pada Allah. Sebab DIA selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Harapmu jangan diorientasikan kepada APA yang kau tuju. tapi SIAPA yang akan membuat APA menjadi nyata.

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang MENGHARAP rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak MENGINGAT Allah” (Al-Ahzab: 21)

Hanya yang mengembalikan HARAP nya pada Allah yang takkan pernah hancur. Sebab mereka sadar, segala yang mereka ingini takkan pernah terjadi selama Allah belum merestui. Harap inilah yang menumbuhkan KEYAKINAN di dalam diri mereka untuk senantiasa bertahan dengan MIMPI mereka. Sebab Allah, selalu akan menyediakan nikmat bagi hamba-Nya yang meminta keinginan mereka dengan doa, usaha dan tawakal yang sempurna.

2. Takut dengan hukuman Allah (khauf)

Rasa TAKUT.

KETAKUTAN yang tumbuh karena diri yang menyadari bahwa hanya Allah yang berhak untuk di sembah, hanya Allah yang berhak untuk dimiliki dan diagungkan dalam kondisi apapun. KETAKUTAN inilah yang membuat kita beranjak dari posisi-posisi memungkinkan untuk berbuat salah, menuju kutub tujuan baru yang lebih mulia.

Ketika kita merasa, bahwa MIMPI dan HARAP kita masih belum terbalut dengan rasa KETAKUTAN bahwa yang kita ingini adalah hal-hal yang TIDAK patut untuk kita miliki, maka janganlah heran jika akhirnya kita menjadi orang yang sedikit MEMAKSA dalam doa-doa kita. Atau bukan dalam porsi SEDIKIT, tapi mungkin BANYAK?

Ahh.. mungkin memang kita belum benar-benar takut bahwa maksiat yang kita punya bisa jadi penghalang semua mimpi yang kita ingini. Bahwa tidak tumbuhnya rasa TAKUT bisa jadi menjadi alasan kenapa MIMPI kita belum terbersamai dengan apa-apa yang Allah (juga) ingini. Rasa TAKUT ini yang memaksa kita untuk merasa MALU dan TUNDUK bahwa sejatinya diri, sungguh masih berbalut dengan pekat yang menemani. Rasa TAKUT inilah yang membuat hati kita menjadi terkontrol untuk tak MEMAKSA, tak KECEWA, tak TERHEMPAS, ketika memang MIMPI belum terealisasi.

2 syarat inilah yang harus kita punyai. Tak mudah.. sungguh tak mudah.. Namun jika kita menjaganya, maka rasa CINTA pada Allah akan semakin membumbung tinggi. Menembus batas cakrawala kita hingga kemudian menyadari, kenapa Bilal bin Rabah sabar dengan siksaan di tengah gurun pasir yang panas menyengat. Kenapa Khalid Bin Walid begitu mencintai dinginnya udara bersama kuda perang dibanding tidur bersama Istri. Kenapa Abu Bakar rela digigiti hewan berbisa demi melindungi Sang Nabi. Juga kisah-kisah menghentakkan orang-orang shalih nan menggairahkan. Mereka mengajarkan kepada kita, bahwa kebersihan hati selalu akan mengukuhkan karakter kita menjadi manusia-manusia sempurna dalam ber MIMPI.

Selamat BERMIMPI.. Semoga Allah me-Ridha-i..


0 comments:

Post a Comment