Pages

Thursday, March 28, 2013

Meraup Pahala Dengan Niat

 
 
Bangun tidur, pergi ke kantor mencari nafkah bagi keluarga, beribadah kepada Allah dengan shalat, baca Al Quran, puasa, zakat, dan seabrek ibadah-ibadah lainnya seolah telah tercetak sebagai rutinitas seorang pemimpin keluarga dalam kesehariannya. Demikian pula seorang istri yang menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah dan mendidik anak, dari pagi hingga pagi berikutnya telah menjadi rutinitas kesehariannya.

Hal ini menyebabkan seseorang lupa akan hal paling urgen dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan di atas agar berbuahkan pahala dan diterima oleh Allah yaitu niat. 

Urgensi Niat 

Seorang muslim dituntut untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Pelaksanaan perintah maupun menjauhi larangan tidak mungkin terlaksana dengan sempurna kecuali jika melandaskan perbuatannya menurut sunah, dan ini juga tidak cukup kecuali dengan niat yang benar karena niat adalah faktor utama berpahala tidaknya perbuatan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sah tidaknya amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan ganjaran sesuai niatnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab menjelaskan makna hadits ini: syariat menjelaskan, pahala seseorang tergantung pada niat, jika niat benar, niscaya amalannya benar dan mendapatkan pahala, dan jika niat salah, maka amalannya salah bahkan ia mendapatkan dosa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal: 61)

Selain itu, niat juga sebagai faktor utama besar kecilnya pahala amalan yang kita kerjakan, Ibnul Mubarak menegaskan: betapa banyak amalan kecil menjadi besar pahalanya karena niat dan amalan besar menjadi kecil pahalanya karena niat.” (Jami’ul Ulum wal hikam, hal: 69) 

Hakikat Niat

Niat adalah kehendak hati dan keinginan sesorang. Jadi, tempat niat ada di hati, bukan di lisan maupun anggota tubuh. Adapun hakikat niat adalah tekad hati dalam menjalankan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan memurnikan tujuan ibadahnya hanya untuk Allah tanpa selain-Nya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal: 69)

Dari definisi tersebut bisa ditarik kesimpulan, niat ada dua macam, yaitu niat yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri dan niat yang berkaitan dengan yang diibadahi. Niat yang berkaitan dengan ibadah adalah niat yang membedakan antara satu macam ibadah dengan ibadah lainnya. Adapun niat yang berkaitan dengan yang diibadahi adalah ikhlas, yaitu hanya mengharapkan keridhaan dan pahala dari Allah semata. Niat lebih umum daripada ikhlas.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Amalan yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan namun tidak benar, maka belum diterima, demikian pula amalan yang dikerjakan tanpa keikhlasan meskipun benar tetap tidak diterima, hingga amalan tersebut benar dan ikhlas. Ikhlas adalah  beramal karena Allah ta’ala dan benar adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal: 71)

Oleh karena itu, seseorang dikatakan niatnya benar jika ia betul-betul dengan penuh kesadaran memahami dan menyadari amalan yang akan ia kerjakan dan ia juga ikhlas mengharap pahala dari Allah semata. Misalnya, shalat Zhuhur, seseorang dikatakan niatnya benar dalam mengerjakan shalat Zhuhur, jika ia betul-betul menyengaja mengerjakan shalat Zhuhur dan betul-betul hanya mengharapkan keridhaan-Nya saat melaksanakannya. 

Semua Perbuatan Harus Ada Niat? 

Semua keyakinan, perkataan, dan perbuatan seorang hamba, jika ingin berpahala maka haruslah diiringi niat yang benar. Yaitu niat yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri maupun niat yang berkaitan dengan yang diibadahi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seluruh perbuatan itu tergantung niatnya”, maksudnya sah tidaknya seluruh perbuatan, benar tidaknya, dan berpahala tidaknya perbuatan tersebut tergantung pada niat.”

Ibnu ‘Ajlan menegaskan, “Suatu amalan tidak menjadi shalih kecuali dengan tiga perkara, yaitu takwa kepada Allah, niat yang benar, dan sesuai dengan sunah.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal: 69)

Ibnu Mas’ud berkata, “Sebuah perkataan tidak bermanfaat kecuali dengan perbuatan. Perkataan dan perbuatan tidak bermanfaat kecuali jika diiringi niat. Perkataan, perbuatan dan niat tidak bermanfaat kecuali jika sesuai dengan sunah.”

Dari beberapa keterangan di atas, telah jelas bagi kita bahwa seluruh amalan membutuhkan niat jika ingin mendapatkan pahala, bahkan dalam beberapa perkara yang pada asalnya mubah, bisa berpahala di sisi Allah jika diiringi dengan niat yang benar. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diperjelas oleh para ulama, di antara lain:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah kamu menafkahkan hartamu karena Allah ta’ala kecuali Allah akan memberimu pahala, bahkan sampai sesuap nasi yang kamu berikan kepada istrimu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari 1/127)

Zubaid al Yami berkata, “Aku sangat suka mengiringi seluruh amalanku dengan niat, bahkan sampai saat makan dan minum sekalipun aku niatkan untuk Allah.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal: 68) 

Bagaimana Jika Suatu Perbuatan Diiringi Oleh Niat Duniawi

Perbuatan yang tercampuri oleh niat duniawi tidak lepas dari dua keadaan, yaitu:
a) Jika seseorang sejak awal sudah berniat ingin mendapatkan pujian atau niat duniawi lainnya, padahal ia belum menjalankan ibadah tersebut, maka ibadahnya batil dan tidak berpahala sama sekali.
b) Adapun seseorang yang sedang menjalankan sebuah ibadah, lalu datanglah niat duniawi merasuki hatinya, maka hal ini juga memerlukan perincian sebagai berikut:
  1. Jika niat duniawinya mengalahkan niatnya yang pertama, maka ibadahnya juga batil dan tidak berpahala.
  2. Jika niat duniawi tidak mengalahkan niat ikhlasnya, namun niat duniawi ini mendorong dia untuk melakukan tambahan-tambahan dalam ibadahnya. Sebagai contoh adalah orang yang memperpanjang bacaan shalatnya karena ingin dilihat orang lain, atau karena ada pemimpin suatu kaum yang melihatnya. Yang biasanya dia membaca tasbih tiga kali, karena dilihat orang lain maka iapun memperpanjang rukuknya lebih dari biasanya. Niat yang seperti ini membatalkan pahala tambahan-tambahan yang ia lakukan dalam asli ibadah yang pertama. Namun tidak sampai membatalkan pahala shalatnya secara keseluruhan. Meskipun begitu, ia telah berbuat syirik kecil yaitu riya’.
  3. Dan jika seseorang telah selesai menjalankan suatu ibadah, kemudian datang kepadanya pujian dari orang lain, maka pujian ini juga tidak membatalkan pahala ibadah yang telah ia kerjakan.
Beberapa kaidah ini berlaku pada mayoritas ibadah-ibadah yang Allah syariatkan, yaitu ibadah yang harus ditujukan hanya kepada Allah. Adapun beberapa ibadah yang syariat juga menyiapkan pahala di dunia ini, maka jika seseorang mengharapkan balasan di dunia ini tanpa meniadakan keikhlasannya, maka niat duniawi ini tidak  menghanguskan pahala ibadahnya. Sebagai contoh adalah menjalin tali silaturahmi, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa senang diperpanjang umurnya, dan diperluas rezekinya hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”

Jika sesorang menyambung tali silaturahmi ikhlas karena Allah dan ia juga ingin diperluas rezekinya maka niat duniawinya ini tidak menafikan pahala ibadah menyambung tali silaturahmi. 

Beratnya Ikhlas 

Ikhlas dalam beribadah adalah hanya beribadah karena Allah tidak mengharapkan balasan selain dari Allah. Imam al-Izz bin Abdussalam menegaskan, “Ikhlas adalah melakukan ketaatan kepada Allah hanya untuk mengharap wajah Allah dan tidak  mengharapkan selain Allah.” Dalam kesempatan yang lain beliau menegaskan, “Ikhlas adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah karena takut, mengharap, mencinta, malu, dan mengagungkan Allah.” (Hakikatul Ikhlas hal: 23)

Allah berfirman,”Agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalannya.” (Hudd: 7)

Fudhail menjelaskan ayat ini, “Yang paling baik amalannya adalah yang paling ikhlas dan benar, sebuah amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima, dan jika benar  namun tidak ikhlas maka juga tidak diterima, hingga amalan tersebut ikhlas dan benar, amalan dikatakan ikhlas jika dikerjakan hanya karena Allah dan amalan itu benar jika dikerjakan sesuai sunah.” (Jami’ul Ulum Wal Hikam: 70)

Ikhlas dalam beribadah bukanlah perkara gampang, membutuhkan upaya yang gigih untuk menghadirkan  keikhlasan dalam beribadah.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Tidak ada perkara yang lebih sulit untuk dikendalikan daripada niat -baca ikhlas-, karena niat itu gampang sekali berubah-ubah.” (Hilyah: 5/7)

Karena mengendalikan niat itu sulit, maka derajat seseorang pun bertingkat-tingkat. Demikian, semoga Allah menganugerahkan niat yang lurus dalam beramal.

0 comments:

Post a Comment