Pages

Thursday, March 28, 2013

Jangan Menampakkan Dosa



عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ” كُلُّ أَمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ” .

أخرجه البخاري  6069 ومسلم 224 .

Dari Salim bin Abdillah, berkata : Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Sesungguhnya termasuk perbuatan menampakkan dosa secara terang-terangan jika seseorang yang berbuat dosa pada malam hari, padahal Allah telah menutupinya, lalu di pagi hari dia mengatakan : wahai fulan, saya tadi malam telah melakukan dosa demikian dan demikian. Allah telah menutupi dosanya pada malam hari namun dia malah membuka penutup Allah pada pagi harinya.” (HR. Bukari : 6069 dan Muslim : 224)

Fawaaid hadits :

Pertama : Kabar gembira bagi umat ini, karena mereka adalah umat yang dimaafkan oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Ini juga menunjukkan besarnya karunia yang Allah berikan kepada umat ini.

Tidak sebagaimana umat-umat sebelumnya, dari kalangan umat nabi Nuh, Shalih, Hud atau Musa‘alihimmussalam. Ketika mereka durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka Allah menyegerakan adzab bagi mereka di dunia sebelum adzab di akhirat.

Allah ta’ala berfirman :

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al Ankabut : 40)

Dari Tsauban radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah dinampakkan untukku. Aku diberi dua harta simpanan: emas dan perak. Dan sesungguhnya aku meminta Rabb-ku untuk ummatku agar Dia tidak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri sehingga menyerang perkumpulan mereka. Dan sesungguhnya Rabb-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh dan Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” (HR. Muslim : 2889)

Adapun bentuk maaf Allah kepada umat ini di akhirat adalah bahwa mereka tidak akan kekal di dalam neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ وَقَالَ شُعْبَةُ أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيرَةً  , أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً,  أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً

“Akan keluar dari neraka -sedangkan Syu’bah mengatakan-; ‘Keluarkanlah dari neraka’- orang yang mengucapkan, La Ilaha illa Allah (tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah) sedangkan di dalam hatinya terdapat sebagian dari kebaikan yang setara dengan biji gandum (sya’irah). Keluarkanlah dari neraka orang yang mengucapkan, La Ilaha illa Allah (tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah) sedangkan di dalam hatinya terdapat sebagian dari kebaikan yang setara dengan biji gandum halus (burrah). Keluarkanlah dari neraka orang yang mengucapkan, La Ilaha illa Allah (tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah) sedangkan di dalam hatinya terdapat sebagian dari kebaikan yang setara dengan biji (dzarrah).” 
Syu’bah berkata; “Sesuatu yang setara dengan timbangan dzurrah yang ringan.”
(HR. Tirmidzi; dan beliau kemudian berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Kedua : Ancaman dan peringatan keras bagi orang yang menampakkan perbuatan maksiat.
Diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut selain hadits ini adalah firman Allah ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (An Nuur : 19)

Dalam ayat ini Allah mengancam orang yang punya keinginan bahwa perbuatan maksiatnya tersebar dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat, bagaimana lagi dengan orang yang telah terang-terangan menampakkan perbuatan maksiatnya ??

Bukankah kerusakan yang ada di bumi disebabkan karena perbuatan maksiat ?!

Allah ta’ala berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar Ruum : 41)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata :
)ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ) بأن النقص في الزروع والثمار بسبب المعاصي
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut” bahwa kekurangan dalam pertanian dan buah-buahan disebabkan karena maksiat.

Abul Aliyah rahimahullah berkata :
وقال أبو العالية: ( من عصى الله في الأرض فقد أفسد في الأرض لأن صلاح الأرض والسماء بالطاعة(
“Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka dia telah berbuat kerusakan di atas muka bumi, karena baiknya bumi dan langit dengan ketaatan.”

Orang yang menampakkan perbuatan maksiat di hadapan orang lain, menunjukkan lemahnya rasa malu yang ada dalam hatinya, padahal malu merupakan akhlaq islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَخُلُقُ الإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlaq, dan akhlaq islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah)

Bukankah Nabi kita yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita supaya punya rasa malu, terlebih lagi malu kepada Allah ta’alaRabb yang telah menciptakan dan memberi segala kenikmatan kepada kita.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ : قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ ِللهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ : أَنْ تَحْفَظَ الرَّاْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذلِكَ ، فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Maka Abdullah bin Mas’ud berkata : Kami para sahabat berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami punya rasa malu, Alhamdulillah. Beliau menjawab : “Bukan demikian itu maksudnya, namun malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, yaitu : engkau menjaga kepala dan apa yang ada disana, menjaga perut dan apa yang ada disana serta ingatlah akan kematian. Dan barangsiapa menghendaki negeri akhirat maka dia akan meninggalkan gemerlapnya dunia. Barangsiapa yang berbuat demikian maka dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR. Ahmad)

Ketiga : hendaknya kita meminta dan berdo’a kepada Allah supaya Dia menutupi dan memaafkan semua dosa dan kesalahan kita.

Karena diantara nama Allah ta’ala adalah Al Ghafar yang artinya Dzat menutupi dan memaafkan dosa.

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ

“Sesungguhnya (pada hari kiamat) Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupinya. Lalu Allah berfirman, “Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah engkau tahu dosa itu?” Dia menjawab, “Ia, betul saya tahu wahai Rabbku.” Hingga ketika Allah telah membuat dia mengakui semua dosanya dan dia mengira dirinya sudah akan binasa, Allah berfirman kepadanya, “Aku telah menutupi dosa-dosa ini di dunia, maka pada hari ini Aku mengampuni dosa-dosamu itu.” Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya.” (HR. Bukhari : 2261)

Semoga Allah menutupi serta mengampuni segala dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan.

****

0 comments:

Post a Comment